Kabupaten Merauke, Papua Selatan
Pojok Merauke

Akibat Krisis Air, Ribuan Hektar Tanam Gadu Di Merauke Terancam Gagal Panen

AAdmin Portal
4,447 views
3 menit baca
Bagikan:
Akibat Krisis Air, Ribuan Hektar Tanam Gadu Di Merauke Terancam Gagal Panen

Merauke, InfoPublik – Krisis air  mulai di alami para petani saat ini, akibat musim kemarau,  ribuan hektar tanam Gadu di Merauke terancam gagal  panen. Ribuan  hektar padi musim gadu yang terancam gagal panen akibat  krisis air tersebut. Hal itu  terungkap dalam Pertemuan antara DPRD  Kabupaten Merauke dengan instansi terkait, berlangsung Rabu, (15/7).

Ketua Komisi B DPRD Merauke, FX Sirfefa, menjelaskan , dari perjalanan tersebut, pihaknya Selasa, (14/7) lalu, menemukan sekitar 5.000  hektar Gadu  di Distrik Tanah Miring terancam gagal panen akibat mengalami krisis air. Karena drainase yang dipompa untuk   mengairi sawah, sudah kering. 

‘’Jika ini tidak segera dicarikan solusi, dan gagal panen maka rakyat yang akan menjadi korban. Karena rata-rata petani  kita menggadaikan sertifikat tanah mereka ke bank untuk bisa mendapatkan kredit,’’ kata Serfefa.

Anggota  DPRD Merauke lainnya, Jorgen Betaubun meminta agar masalah krisis air yang dihadapi  petani sekarang ini dijadikan kejadian luar biasa sehingga ada kebijakan-kebijakan yang bisa   segera diambil untuk mengatasi persoalan krisis air tersebut.

Kadis Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, Ir. Bambang Dwi Atmoko, mengungkapkan, sasaran tanam untuk musim tanam gadu  tahun 2015 ini seluas 17.000 hektar. Hingga sekarang, yang  berhasil ditanami   baru sleuas 12.300 hektar.

Berarti, hal ini masih  kurang 4.700 hektar  dari target musim gadu.  Dikatakan, masalah kekurangan air   sudah dialami sejak musim tanam rendengan  dimana sampai Juni 2015 curah hujan di Merauke baru mencapai 1.100 mililiter yang minimal 1.200 ml.

Kendala lainnya, jelas  Bambang Dwi Atmoko    adalah terjadinya pendangkalan drainase.  Bambang mengungkap, krisis air ini tidak hanya dialami  oleh petani yang ada di Distrik Tanah Miring, tetapi juga di Distrik Semangga  dan Distrik Kurik. Bahkan, di Kurik, kata dia,  justru lebih parah lagi karena di area sekitar  Pusat Pembibitan Kurik, hingga saat ini tidak dapat ditanami  karena air tidak ada.

Langkah-langkah yang  dilakukan pihaknya kata Bambang  adalah dengan menghubungkan pompa besar dari Kali Kum ke saluran. Selain itu, Pompa Besar milik P2R yang sedang rusak di Kali  Bian, pihaknya  siap perbaiki asalkan aturannya memungkinkan. 

Selain itu, pihaknya telah meminta ke staf  Menteri Pertanian yang datang ke Merauke baru-baru ini untuk meminta hujan buatan . ‘’Tetapi inipun  biayannya cukup besar,’’ katanya.   Kadistrik Tanah Miring Drs David Tom Tuwok mengaku, krisis air yang terjadi tersebut telah  menimbulkan gesekan di antara petani karena berebut air.

Hanya saja, gesekan ini , ungkapnya, sudah  bisa diselesaikan oleh Babinsa.  Sementara  itu, dari pihak BMKG Merauke mengungkapkan  pada tahun 2015 ini terjadi El Nino  yakni musim panas lebih panjang. Musim  kemarau sendiri  sudah mulai terjadi sejak   bulan sampai Desember 2015 mendatang pada dasarian pertama.

‘’Panjang kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung selama 21 dasarian,’’ujarnya.  Rapat yang dipimpin langsung ketua DPRD Merauke Kanisia Mekiuw, SH ini dihadiri kepala-kepala kampung se-Distrik Tanah Miring.  (02/mc.merauke/eyv)

Terakhir diperbarui: