Kabupaten Merauke, Papua Selatan
Berita

WWF dan Yasanto Gelar Uji PublikTerkait Lumbung Pangan Nasional

AAdmin Portal
3,214 views
3 menit baca
Bagikan:
WWF dan Yasanto Gelar Uji PublikTerkait Lumbung Pangan Nasional

Merauke, InfoPublik – WWF bekerjasama dengan Yayasan Yasanto menggelar uji publik terkait kebijakan Merauke menjadi lumbung pangan nasional, yang berlangsung selama sehari di Gedung Pertemuan Hotel Megaria, Kamis (18/6).

Uji publik tersebut, digelar dalam rangka memperoleh berbagai masukan  dari stakeholder terutama dari masyarakat pemilik hak ulayat atas tanggapannya  terhadap kebijakan pemerintah untuk membuka lahan persawahan  1,2 juta hektare untuk menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan nasional.

Uji publik yang digelar tersebut, ternyata mendapat respon positif. Ini terlihat dari hadirnya sejumlah tokoh maupun  pejabat dalam kegiatan tersebut. Kegiatan ini dibuka oleh Asisten I Setda Kabupaten Merauke Drs Agustinus Joko Guritno, mewakili  Bupati. 

Hadir Ketua DPRD Merauke Kanisia Mekiuw, SH, Danrem 174/ ATW Brigjen TNI Supartodi, Uskup Agung Merauke Mgr Nicolaus Adi Saputra, MSC,  mantan Bupati Merauke  Drs Johanes Gluba Gebze, Ketua  LMA Kabupaten Merauke Ignasius Ndiken dan sejumlah pejabat lainnya.

Dalam paparannya, Joko Guritno  mengungkapkan, dari hasil analisis dan  kajian yang dilakukan  membuktikan pembukaan lahan  1 juta hektare cocok dikembangkan dengan pola bagi hasil 70:30%, dimana hak ulayat tetap menjadi milik masyarakat.

Menurutnya, pembukaan 1 juta hektare di Merauke untuk mendukung program  nasional atas ketersediaan pangan dan mengurangi kemiskinan. Disamping itu, juga akan memberikan kontribusi     peningkatan ekonomi daerah serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat.    

Sementara itu, Yoseph Mahuze, salah satu pemilik hak ulayat mengaku mendukung kebijakan  pemerintah untuk membuka lahan 1 juta hektare di Merauke tersebut.

Namun sebelum  program berjalan, ia meminta agar terlebih dahulu dilakukan pemetaan tanah ulayat. Sebab, jika   pemetaan  tidak dilakukan maka bisa menciptakan konflik antar pemilik hak ulayat itu sendiri.

Roni dari salah satu LSM meminta   pemerintah  untuk melakukan kajian secara mendalam atas rencana pembukaan lahan 1 juta hektare tersebut. Karena, menurutnya, lahan 1 juta hectare itu  sangat luas  dan jika itu dibuka maka akan memberikan pengaruh dan dampak yang sangat  luas bagi Merauke ke depan.

Sama halnya yang disampaikan  oleh Vincentius Mekiuw, pensiuan PNS ini  juga mendukung upaya pemerintah dalam mensejahterahkan  rakyat dengan pembukaan lahan  1 juta hektare itu.

Namun,  menurutnya, perlu  dikaji  secara matang apakah betul  pembukaan lahan 1 juta hektare tersebut akan membawa dampak kesejahteraan bagi masyarakat lokal.

Sebab pengalaman transmigrasi, yang dulunya  dibumikan akan mensejahterakan warga local, namun faktanya warga lokal tidak maju dan tetap dengan kehidupan seperti dulu.  Ia juga meminta hasil kajian yang dilakukan pemerintah  untuk disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.

Ketua DPRD Merauke Kanisia Mekiuw menjelaskan untuk pembukaan 1 juta hektare lahan tersebut, masing-masing  pihak harus terbuka dan jujur. “Kadang-kadang kita tidak ada kejujuran pada diri kita sendiri,” katanya.

Kadang kita sampaikan untuk kesejahteraan rakyat tapi itu  hanya bahasa saja. Tapi pada ujung-ujungnya kesejahteraan rakyat itu dimana dan itu kadang  menjadi nomor dua dan itu sangat disayangkan.   

Direktur Yasanto  Ir. Leonardus Mahuze, M.Si menjelaskan, gagasan Yayasan Yasanto dan WWF  ini untuk memberikan informasi awal kepada masyarakat terkait kebijakan pemerintah pusat, yang akan menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan nasional. 

’Lewat diskusi ini kita bisa mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat terutama itu dari masyarakat  adat dan masyarakat Marind. Mereka bisa memberikan masukan terkait  kebijakan ini, sehingga nantinya ada saran pendapat yang diberikan kepada pemerintah daerah apa yang harus dilakukan sehubungan dengan lahan yang akna digunakan dari kebijakan ini. (02/mcmerauke/toeb)

Terakhir diperbarui: