Kabupaten Merauke, Papua Selatan
Berita

TEP UGM PS0018 Dorong Penguatan Konektivitas Muting–Ulilin–Elikobel untuk Mendukung Koridor Pangan

IIrma MayaSari
55 views
4 menit baca
TEP UGM PS0018 Dorong Penguatan Konektivitas Muting–Ulilin–Elikobel untuk Mendukung Koridor Pangan
Bagikan:
TEP UGM PS0018 Dorong Penguatan Konektivitas Muting–Ulilin–Elikobel untuk Mendukung Koridor Pangan

Dokumentasi Focus Group Discussion (FGD) Tim PS0018 | Foto: Dok. Tim 18 Patriot Koridor Pangan

Merauke, Papua Selatan, 9 September 2026 - Penguatan konektivitas menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan Koridor Pangan Muting, khususnya untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi komoditas pangan di kawasan Muting, Ulilin, dan Eligobel. Hal tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UGM PS0018 2026 dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pemangku kepentingan di Distrik Ulilin.

FGD dilaksanakan sebagai bagian dari proses pengumpulan dan validasi data lapangan yang dilakukan tim. Melalui forum tersebut, tim menggali informasi mengenai kondisi infrastruktur, jaringan transportasi, serta akses masyarakat terhadap pusat pelayanan dan kegiatan ekonomi.

Suasana Diskusi Bersama Tim PS0018 | Foto: Dok. Tim 18 Patriot Koridor Pangan

Kawasan Muting, Ulilin, dan Elikobel memiliki posisi strategis dalam pengembangan kawasan serta pergerakan komoditas pangan. Namun, kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi tantangan dalam menciptakan konektivitas yang andal antarkawasan.

Berdasarkan temuan awal tim di lapangan, sejumlah ruas jalan masih berupa jalan tanah dan belum sepenuhnya dapat mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi barang secara optimal. Selain itu, kondisi beberapa jembatan yang mengalami kerusakan maupun terputus menyebabkan masyarakat harus menggunakan jalur alternatif untuk mencapai wilayah tujuan.

Yessy Noven Agustina, S.P., narasumber dalam FGD, menyampaikan bahwa kondisi jalan yang tersedia belum selalu dapat diandalkan untuk mendukung pergerakan orang maupun barang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan konektivitas tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan jalan, tetapi juga dengan keterhubungan antara berbagai infrastruktur dan moda transportasi. Dalam pemaparan tim lapangan yang disampaikan oleh Linthang dan Siraj, konektivitas kawasan perlu dilihat melalui keterpaduan tiga moda transportasi, yaitu darat, laut, dan udara.

“Konektivitas tidak cukup hanya melihat jalur darat. Kondisi geografis kawasan membuat konektivitas antarmoda menjadi penting, sehingga jalur darat, laut, dan udara perlu dilihat sebagai satu kesatuan jaringan,” jelas tim dalam pemaparan FGD.

Keterhubungan antara Merauke, Asiki, Wanam, dan Muting juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Jaringan tersebut dinilai memiliki potensi untuk mendukung pergerakan masyarakat sekaligus memperlancar distribusi komoditas dari kawasan produksi menuju pusat perdagangan dan simpul transportasi.

Ketua Tim PS0018, Sa’duddin, S.Si., M.B.A., M.Sc., menegaskan bahwa hasil yang diperoleh dalam FGD dan observasi lapangan sejauh ini masih merupakan temuan awal. Tim masih memiliki waktu sekitar tiga bulan untuk melengkapi, memvalidasi, dan memperdalam data yang telah diperoleh.

“Temuan yang kami dapatkan saat ini masih merupakan temuan awal. Masih ada sekitar tiga bulan ke depan untuk melengkapi dan memperdalam temuan, termasuk melakukan validasi terhadap informasi yang kami peroleh di lapangan,” ujar Sa’duddin, S.Si., M.B.A., M.Sc.

Ia menambahkan bahwa proses tersebut diperlukan agar rekomendasi yang nantinya disusun dapat menggambarkan kondisi kawasan secara lebih utuh dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta karakteristik wilayah.

Melalui FGD dan rangkaian kegiatan lapangan yang masih berlangsung, TEP UGM PS0018 berupaya melihat konektivitas kawasan secara lebih menyeluruh. Infrastruktur seperti jalan, jembatan, sungai, dermaga, pelabuhan, hingga bandara tidak dipandang sebagai fasilitas yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari jaringan yang saling mendukung.

Berbagai temuan dan masukan dari pemangku kepentingan selanjutnya akan menjadi bahan dalam penyusunan Indeks Infrastruktur dan Konektivitas Terpadu (IIKT) serta rekomendasi penguatan Koridor Pangan Muting.

Penguatan konektivitas diharapkan tidak hanya meningkatkan aksesibilitas antarkawasan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, memperlancar distribusi komoditas pangan, serta memperkuat rantai pasok pangan di wilayah perbatasan Papua Selatan.

Bagi TEP UGM PS0018, konektivitas pada akhirnya bukan sekadar persoalan membangun jalan atau menyediakan sarana transportasi. Lebih dari itu, konektivitas merupakan upaya menghubungkan masyarakat dengan layanan dasar, menghubungkan sentra produksi dengan pasar, serta membuka akses yang lebih luas bagi pertumbuhan dan pengembangan kawasan.

Sumber: TEP UGM PS0018

Terakhir diperbarui:

Komentar

Tinggalkan komentar Anda

Komentar akan ditinjau terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

Komentar (0)

Memuat...